Dalam setiap penjurian lomba komikstrip saya selalu menambahkan satu
pertimbangan yakni "
Possibility To Grow". Hakekat komik
sebagai media komunikasi adalah menemukan pembacanya, semakin luas komikstrip
itu dapat menjangkau pembaca, maka semakin berhasilah misi komikus dalam
menyampaikan konsep/ gagasannya. Disamping aspek-aspek standar penjurian
seperti artistik, kesesuaian tema, orisinalitas (ide) dll. Ini pulalah yang
membuat pilihan saya jatuh pada karya 3 peserta yang selain memenuhi syarat
dari aspek umum penjurian, juga sangat berpotensi untuk dikembangkan.
Juara III
"Kyai Slamet" (Bagus Wahyu Ramadhan)
Komikus adalah pengamat yang jeli, dan Bagus telah melakukan itu dengan baik.
Julukan Kyai bagi hewan dan benda seperti Gong, keris yang dianggap
"sakral" atau memiliki kekuatan tertentu adalah tradisi yang masih
lestari di tanah Jawa dan menjadi keunikan budaya Indonesia. Tradisi ini
berbenturan dengan generasi baru yang tumbuh besar di luar kalangan tradisi,
sehingga cara perkenalan generasi baru ini terhadap tradisi adalah hal yang
menarik untuk diungkapkan. Ini hal yang bisa terjadi pada siapa saja, bahkan
pada anak-anak muda yang besar di Jawa, bahkan di Solo. Sayang, saya tidak
dibuat terpana oleh visualnya yang bagi saya terlalu kaku. Space/ jarak antara
baris panel atas dan bawah terlalu lebar, balon dialog terlalu besar, bahkan
pada panel 3 (yang menghalangi hidung kerbau) dan panel 4 yang tepat menempel
di perut tokoh yang berbaju putih sangat sangat mengganggu. Dan akhirnya,
klimaks pada ending cerita (panel terakhir) peletakan
caption yang
berwarna kuning yang disatukan dengan kerumunan orang berburu kotoran Kyai
Slamet, menjadikannya antiklimaks.
Juara II
"Sampai Titik Kursi Penghabisan" (K Arsyad)
Sebagai komikstrip ini sudah layak diapresiasi (go publish).
Detail, angle,
storytelling sudah sangat memenuhi syarat. Sangat percaya diri tampil
dengan grayscale (dugaan saya manual) yang justru membuatnya menjadi
stand
out diantara peserta lain. Tema yang diajukanpun sangat tegas menyasar
budaya hormat, sopan satun, tepa selira yang telah keropos di jaman sekarang.
Ini sebuah cara terbalik dalam menyampaikan keunikan budaya di Indonesia, yakni
sikap warga dan pejabat publik yang memperlihatkan ketidak pedulian sosial dan
cenderung individual, padahal tradisi budaya Indonesia di manapun sangat
bersifat prososial (
community base). Satu hal yang membuat saya surut
adalah pada adegan terakhir di mana para penumpang justru menunjukan sebuah
sikap yang seragam, yakni tersenyum. Hal ini bagi saya antiklimaks, ekspresi
yang ditunjukkan pada sebuah adegan dalam komik akan sangat mencerminkan
gagasan komik tersebut, dalam komik ini apa yang sedang digagas? apakah kritik
dari Sang Ibu yang sedang menggendong anak itu adalah hal yang lumrah? bahkan
Ibu tua di sebelahnya tidak menunjukkan sikap apapun selain kalimat sugestif
sebelumnya. Jika saja, pada panel terakhir ini ada salah satu warga/ penumpang
yang menunjukkan ekspresi muka sebal, bahkan marah, maka konsep/ gagasan komik
ini akan lebih tajam dan mengena. Tidak berlalu menjadi biasa saja.
Juara I
"Where Is Indonesia" (L Laste Atmaji)
Meskipun komik ini memiliki kecenderungan seperti poster, namun saya merasa
segala aspek yang melekat pada komikstrip ada di komik ini. Simple dan tegas
menyasar pada persoalan. Memang inilah salah satu keunikan Indonesia yang
tersebar menjadi beberapa kawasan beserta keragaman suku dan budaya yang
sekaligus menjadi resiko
mispersepsi yang harus diterima bangsa ini.
Kritik ini akhirnya menyasar pada semua elemen bangsa yang intgeritas
"persatuannya" sedang dipertanyakan kembali, jadi komik ini bukan
hanya menembak kinerja pemangku kepentingan yang bertugas memajukan pariwisata
atas nama Indonesia, seperti pertanyaan perlukah wisatawan asing itu tahu
"
Di mana Indonesia?" tidak cukupkah jika mereka sekedar datang
langsung ke Bali misalnya, tokh devisa nya masuk ke pemerintah daerah dan juga
pusat? secara ekonomi sudah menguntungkan bukan? Masalahnya adalah, saya
sepakat dengan komik ini. Kita butuh sebuah strategi budaya untuk
memperkenalkan bukan hanya "
Di mana" tapi "
Apa Itu
Indonesia?" Keberhasilan komik ini adalah:
Berhasil membawa saya
dan saya harap juga anda, mau berfikir sejauh ini. Barangkali kita bisa
menambahkan dengan kalimat "
Where Is The Indonesia Within You?"
Selamat bagi para pemenang, saya mengucapkan apresiasi yang mendalam, Bagi yang
tidak terpilih saya kira ini bukan akhir dari segalanya. Percayalah jika setiap
komik itu akn menemukan pembacanya, jadi tetaplah berkarya karena akan selalu
ada yang membaca dan mengapresiasi karya anda.
Jakarta, 20 Desember 2011
Beng Rahadian